Sersan Usman (1943–1968) dan Kopral Harun (1947- 1968) (I)

Memasuki Dinas Militer
Usman dan Harun adalah dua orang prajurit ALRI. Usman adalah nama samaran untuk melaksanakan tugas sebagai sukarelawan Dwikora. Harun juga nama samaran untuk tugas yang sama. Usman nama sebenarnya adalah Djanatin bin Haji Moh. Ali. Ia dilahirkan di Purbalingga, Banyumas (Jawa Tengah) pada tanggal 18 Maret 1943. Setelah tamat Sekolah Dasar, ia meneruskan pendidikan ke SMP. Setelah tamat SMP pada 1962 ia masuk pendidikan Sekolah Calon Tamtama Korps Komando (Secatamko) Angkatan Laut. Selesai pendidikan diangkat menjadi Prako III (prajurit Komando III). Setelah menjalani masa tugas sekian lama dan setelah mengalami naik pangkat dua kali, terhitung mulai tanggal 1 Maret 1968 pangkatnya dinaikkan menjadi Kopral Komando. Ia adalah anggota kesatuan Batalyon III KKo-AL.

Harun nama yang sebenamya adalah Tohir bin Said. Ia dilahirkan pada tanggal 4 April 1947, di P. Bawean, Surabaya. Pendidikan yang pemah ditempuhnya adalah Sekolah Dasar, SMP dan SMA. Pendidikan SMA yang ditempuhnya tidak sampai tamat, sebab tertarik masuk KKo-AL. Pada tahun 1964, ia diterima masuk Secatamko.

Pengabdian dan Perjuangan di Bidang Militer
Kopral KKo Usman dan Prako II Harun berdasarkan surat perintah KKo tanggal 27-8-1964 dimasukkan ke dalam Team Brahmana I di bawah pimpinan Kapten KKo Paulus Subekti. Pada waktu itu ia menyamar dengan pangkat Letnan Kolonel KKo dan merangkap menjadi Komandan Basis X yang berpangkalan di Pulau Sambu, Riau. Di Pulau Sambu inilah Kopral KKo Usman alias Janatin bin Haji Mochammad Ali bertemu dengan Prako II Harun alias Tohir bin Said dan seorang sukarelawan lainnya yang bernama Gani bin Arup. Setelah berada beberapa lamanya di Pulau Sambu mereka mendapat perintah untuk mengadakan penyusupan ke daratan Singapura. Pada saat itu RI sedang terlibat dalam konfrontasi dengan Malaysia dan Singa¬pura. Tugas mereka ke daratan Singapura adalah untuk mengadakan sabotase. Politik konfrontasi Pemerintah RI terhadap Malaysia dan Singapura itu dimulai dengan dicanangkannya Dwikora (Dwi Komando Rakyat). Pasukan yang dikirim melaksanakan Dwikora, tergabung dalam sukarelawan Dwikora. Usman dan Harun termasuk sebagai sukarelawan Dwikora itu.

Pada tanggal 8 Maret 1965 berangkatlah satu team sabotir Kopko Djanatin alias Usman, Prako II Tohir alias Harun dan sukarelawan Gani bin Arup. Mereka bertolak dari Pulau Sambu pada malam hari. Malam itu cuaca gelap. Gelombang Selat Malaka yang memecah di pantai Pulau Sambu tidak begitu besar tetapi cukup untuk menyembunyikan gerakan ketiga orang sukarelawan itu.

Mereka bertolak menuju sasaran dengan sebuah perahu karet (LR). Mereka dibekali dengan 12,5 kg bahan peledak. Sasaran mereka tidak ditentukan secara pasti. Mereka dapat menentukan sendiri sasaran yang mendatangkan kerugian besar terhadap musuh. Sekurang-kurangnya memberikan efek psikologis yang dapat menggoyahkan kepercayaan umum terhadap kemampuan penguasa Singapura untuk melindungi keselamatan umum.

Setelah beberapa kali mereka terhenti di tengah laut, akhirnya pada malam itu juga berhasil mendarat di pantai Singapura. Dengan sigap perahu karet yang mereka pakai segera disembunyikan di semak-semak di sekitar tempat pendaratan mereka. Usman selaku komandan team segera mengadakan pembagian tugas dan dengan cepat pula mereka berpencar menuju sasaran.

Menjelang pagi hari tanggal 9 Maret 1965 mereka secara sembunyi-sembunyi sudah berhasil memasuki kota Singapura. Dengan sangat hati-hati sekali pada pagi itu mereka mengadakan orientasi tempat mana yang paling tepat untuk dijadikan sasaran. Sebelum tugas ini, mereka sudah dua kali mengadakan pendaratan terdahulu khusus untuk penyelidikan daerah-daerah mana yang dapat disabot untuk melemahkan pemerintah Singapura.

Pada hari itu mereka sehari penuh menjelajahi kota Singapura. Walaupun penjagaan keamanan dalam kota cukup ketat ternyata ketiga sukarelawan itu dapat melakukan tugasnya berkat latihan-latihan dan berkat ketabahan mereka. Malam harinya, mereka berkumpul kembali dan mendiskusikan peng¬alaman dan pengamatan masing-masing. Dan pengamatan tersebut diambil kesimpulan bahwa obyek-obyek vital dalam arti militer tidak dapat didekati, karena penjagaannya sangat ketat. Maka diputuskanlah untuk memilih sasaran yang diharapkan dapat menimbulkan kepanikan dalam masyarakat. Untuk itu dipilih sebuah bangunan yang penting di Orchard Road yaitu Hotel Mc. Donald House.

Melaksanakan Tugas Negara
Di tengah malam buta, di saat kota Singapura berangsur sepi, mereka bertiga mulai menyelusuri Orchard Road di mana Mc. Donald House berada. Mereka mendekati bangunan tersebut tanpa menimbulkan kecurigaan petugas keamanan. Mereka berhasil memasang bahan peledaknya yang dibawa ke dalam bangunan Mc. Donald House. Setelah tugas selesai langsung mereka berpisah dengan rencana keesokan harinya bertemu kembali di tempat yang telah ditentukan.

Keesokan harinya terjadilah ledakan dalam bangunan Mc. Donald House. Tiga orang tewas dan sejumlah orang lainnya luka-Iuka. Pada bangunan tersebut terjadi kerusakan berat. Beberapa toko dan kendaraan yang berada di dekat gedung itu juga mengalami kerusakan. Orang-orang merasa terancam keselamatannya walaupun berada di tengah-tengah kota.

Pada hari itu juga, tanggal 10 Maret 1965 ketiga orang sukarelawan Indonesia berkumpul kembali. Pada saat itu ditentukan bagaimana caranya kembali ke pangkalan. Keadaan menjadi sulit, karena seluruh aparat keamanan Singapura telah dikerahkan untuk mencari mereka. Sehingga diputuskan untuk kembali kepangkalan dibagi dalam dua kelompok. Usman bersama Harun dan Gani akan mencari jalan sendiri. Maka mulai dari sini Usman dan Harun berpisah dan tidak pernah bertemu lagi dengan Gani sampai akhir hidupnya.

Penjagaan keamanan sangat ketat. Dengan berbagai usaha akhirnya mereka berdua dapat memasuki pelabuhan Singapura. Mereka bersembunyi dalam sebuah kapal yang sedang berlabuh sambil menunggu kesempatan untuk meninggalkan daerah lawan.

Mereka dapat menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan berlayar menuju Bangkok, Kedua anak muda itu dapat menyamar sebagai pelayan dapur. Sampai tanggal 12 Maret 1965 mereka berdua bersembunyi dalam kapal tersebut. Tetapi pada malam itu, ketika pemilik kapal Begama mengetahui dua orang yang bukan anak buahnya berada dalam kapal, lalu ia mengusir Usman dan Harun turun dari kapal. Kalau tidak mau akan dilaporkan. Alasannya mengusir kedua orang itu takut kalau diketahui, kapalnya akan ditahan. Akhirnya pada tanggal 13 Maret 1965 mereka keluar dari persembunyiannya dan berusaha mencari kapal lain tetapi tidak berhasil.

Tertangkap Dan Di Jatuhi Hukuman Mati
Mereka berusaha sekuatnya untuk mencari sebuah kapal tempat bersembunyi untuk dapat ke luar dari daerah Singapura. Sedang mereka mencari-cari sebuah kapal yang dapat menyelamatkan mereka, tiba-tiba tampaklah sebuah motorboat yang dikemudikan seorang Cina. Dari pada tidak berbuat yang mengakibatkan tertangkap lebih baik berbuat dengan dua kemungkinan yaitu tertangkap atau dapat lolos dari bahaya. Akhirnya dengan keberanian yang luar biasa mereka merebut motorboat tersebut dari pengemudinya dan akan dipergunakan untuk menyeberang ke pulau Sambu. Tetapi apa daya, manusia boleh berencana tetapi Tuhan yang menentukan. Sebelum mereka sampai di tempat tujuan, motorboatnya macet di tengah laut. Mereka tidak dapat menghindarkan diri lagi dari patroli musuh, sehingga pada pukul 09.00 tanggal 13 Maret 1965 itu Usman dan Harun tertangkap.
…bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *