Perang Tondano (1)

Sistem Kepemimpinan Daerah Minahasa

Masyarakat Minahasa dikenal sebagai orang Alifuru oleh orang Ternate dan Maluku, sebab mereka menganut kepercayaan animisme, dengan menyembah nenek moyangnya yang telah meninggal dunia. Akan tetapi mereka sendiri lebih suka disebut sebagai orang se-mina-asa, artinya mereka bersatu karena berasal dari satu keturunan “toar” dan limumuut. Yang terakhir ini lebih bersifat dongeng dan sampai sekarang cerita turun-temurun ini masih hidup di Minahasa.

Sisa-sisa suku Minahasa yang menganut animisme masih terdapat sampai permulaan abad ke-19 dengan kebiasaan “mangayau” yang dikenal dengan istilah memuis. Dalam tradisi mereka, memenggal kepala manusia adalah salah satu syarat dalam kepercayaannya. Pada masa kekuasaan Inggris tahun 1812, perbuatan memenggal kepala manusia ini dilarang. Kebiasaan lain dari suku ini adalah meramal sesuatu melalui tanda atau ciri yang ada dalam hati (empedu) dari seekor babi yang disembelih.

Masyarakat Minahasa hidup dari usaha bertani dengan tanaman padi sebagai hasil utamanya. Hasil padi ini sering melebihi kebutuhan hidup mereka, sehingga daerah tersebut menjadi incaran dari kerajaan-kerajaan di sekitarnya seperti kerajaan Ternate dan Makasar. Demikian juga bangsa-bangsa Barat seperti Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda mengincar daerah Minahasa yang dikenal sebagai daerah penghasil padi. Sekitar abad 16-19 Minahasa disebut sebagai gudang beras Maluku.

Penampilan fisik orang Minahasa menunjukkan bahwa mereka berasal dari utara, demikian juga bahasanya serumpun dengan yang ada di Filipina.  Pada zaman pendudukan Spanyol, terjadi perpindahan penduduk dari Pulau Bangai, Taifare menuju bagian sebelah barat Minahasa di bawah pimpinan Singal dan Awrek. Kedatangan mereka pertama menetap di daerah yang bernama Liang dan Limam-bot pegunungan Lembean. Kemudian mereka berpindah menuruni pegunungan, selanjutnya bermukim di sebelah utara Danau Tondano pada sabuah delta yang terbentuk oleh sungai Tondano. Setelah berbaur dengan orang-orang Kakas, Remboken dan Tomohon yang juga bermukim di sekitar danau Tondano bagian utara, mereka menamakan dirinya orang-orang Tondano dengan tetap mempertahankan identitas sebagai orang-orang asal Tanliang dan Tanlimambot. Orang-orang Minahasa menyebut mereka “malentut lentut” (manusia di atas air), sedangkan Belanda menyebut mereka sebagai de water landers.

Susunan kepemimpinan orang Minahasa sederhana, tetapi justru dalam kesederhanaarmya itu membuat orang-orang asing yang pernah mendudukinya sulit memahaminya sebab dalam kepemimpinan orang Minahasa tidak mengenal pimpinan bertingkat. Andaikata kepemimpinan demikian ada, tidak pernah mendapat pengakuan dari masyarakat.

Seorang pemimpin akan dipilih melalui sebuah rapat para kepala keluarga. Hasil rapat dari satu kelompok lahirlah pemimpin yang disebut “ukung”. Ukung mewakili dan dipercayai mengurus segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan kelompok. Kelompok-kelompok lain juga memilih “ukung”-nya masing-masing. Para “ukung” menyelenggarakan rapat sesama ukung, memilih salah satu dari ukung yang dianggap tertua dan memiliki kharisma sebagai kepala sesama ukung. Nama kepala ukung ini disebut “Kepala Walak”3 atau ukung tua. Pada waktu penge-sahan pimpinan ini diselenggarakan upacara disertai dengan sumpah adat. Di atas ukung tua tidak dikenal pemimpin lagi, walak tidak pernah ada. Para kepala Walak hanya akan bersatu dan bekerjasama apabila mereka menghadapi suatu kepentingan atau bahaya yang mengancam ketenteramannya. Pemimpin dalam tindakan bersama ini, diangkat dan dikukuhkan dalam satu musyawarah antar walak dengan ketentuan bahwa tugasnya sebagai pimpinan akan berakhir bila masalah yang dihadapi sudah tidak ada lagi. Inilah ketentuan yang berlaku dalam sistem pemerintahan adat Minahasa.

Hubungan dengan orang-orang Eropa
Kedatangan orang Barat pertama di wilayah Nusantara diawali dengan datangnya bangsa Portugis yang bertujuan untuk berdagang dan menyebarkan agama Kristen. Penjelajahannya dilakukan dari barat ke timur dan menetap di Malaka pada tahun 1511. Bangsa Spanyol sebagaimana bangsa Portugis menjelajahi wilayah dunia ke timur dan tiba di daerah Filipina, dari sana mereka menuju ke Sulawesi.

Pada tahun 1516 Sultan Haerun dari Ternate, mengirimkan armada yang berkekuatan besar untuk menaklukkan Minahasa dan mengislamkan wilayah Sulawesi Utara. Rakyat Sulawesi Utara saat itu belum menganut agama. Armada Ternate ini dipimpin oleh Pangeran Baabullah putra Sultan Haerun. Rencana ekspedisi ini diketahui oleh Portugis yang pada waktu itu sudah menetap di Ternate, Portugis segera mengirimkan armadanya untuk menggagalkan misi Ternate. Armada Portugis ini dipimpin oleh Laksamana Henruquedeca. Dalam ekspedisi ini disertakan pula seorang penyebar agama Katolik bernama Diogo de Magelhaes.4 Portugis berhasil mencegah maksud Sultan Haerun, sekaligus mempengaruhi Raja Babontehu tua untuk masuk agama Katolik. Raja Babontehu dibaptis bersama 1.500 orang rakyatnya. Pada saat yang sama, Raja Pasumah dari Siau sedang menjadi tamu Raja Babontehu juga minta dibaptis. Kedatangan agama Katolik di Sulawesi Utara pada tahun 1563 diperingati sebagai tahun pemberitaan Injil pertama di Indonesia.

Situasi politik di Eropa mempengaruhi perkembangan hubungan antara orang-orang Sulawesi Utara dan bangsa Barat. Pada tahun 1580, Spanyol dan Portugis, disatukan. Oleh karena itu, peranan Portugis di Sulawesi Utara diambil alih oleh Spanyol. Spanyol memberangkatkan armadanya dari Ternate tahun 1606,5 dipimpin oleh Christoval Suarez. Tujuannya ialah mengikat persahabatan dengan penguasa Minahasa. Spanyol berhasil menjalin persahabatan dengan salah seorang pemimpin Minahasa yang bernama Tololiu. Atas dasar persahabatan itu Spanyol diperkenankan berdagang dan menyiarkan agama Katolik di Minahasa. Sepuluh tahun berikutnya Spanyol mengirimkan dua orang penyebar agama, yakni Scialamonte dan Cosmos Pinto. Mereka berhasil menarik minat beberapa orang pemuda untuk dididik dalam Seminarium Katolik di Ternate.
…bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *