Perang Tondano (2)

Hubungan baik antara orang-orang Minahasa dan Spanyol mulai terjalin. Untuk memantapkan kegiatan dagangnya, Spanyol mendirikan benteng di Minahasa pada tahun 1617. Di dalam benteng ini ditempatkan 10 orang serdadu. Karena ancaman dari pihak Belanda yang berpangkalan di Ternate semakin membahayakan, benteng tersebut ditinggalkan. Pada tahun 1623 Spanyol kembali mendirikan benteng yang diperkuat dengan 40 orang serdadu. Serdadu-serdadu ini bertugas mengamankan perdagangan dan kegiatan penyebaran agama Kristen di Minahasa. Akan tetapi, tugas itu tidak dilaksanakan dengan baik. Mereka banyak melakukan tindakan yang menyakitkan hati rakyat, seperti merampas bahan makanan dari ternak penduduk serta memperkosa gadis-gadis Minahasa. Akibatnya, masyarakat Minahasa menjadi marah.

Orang-orang Minahasa berhasrat mengusir orang-orang Spanyol. Karena tidak merasa cukup kuat, mereka mencari sekutu dari luar. Mereka mengetahui bahwa ada orang Belanda di Ternate yang bermusuhan dengan Spanyol. Delapan orang utusan dikirim untuk menemui orang-orang Belanda di Ternate.

Pada mulanya Belanda segan memberikan bantuan. Akan tetapi, atas desakan Sultan Ternate, Belanda mengirimkan juga bantuannya. Sebuah ekspedisi diberangkatkan di bawah pimpinan Kapten Paulus Andriessen, terdiri dari 70 orang serdadu Belanda dan 50 orang Mordijkers (bekas budak yang telah dibebaskan). Mereka diangkut dengan kapal Egmount dan beberapa kora-kora. Sesampainya di Manado, terjadi kontak senjata dengan Spanyol yang berakhir dengan kekalahan Belanda. Kapten Andriessen memutuskan menarik mundur pasukannya yang sudah mendarat, kembali ke Ternate.

Bantuan yang diberikan oleh Belanda membuat semangat rakyat Manado bertambah tinggi dalam usahanya mengusir Spanyol. Pada suatu hari terjadi perselisihan antara serdadu Spanyol dan kepala Walak Tomohon. Seorang serdadu Spanyol melukai badan kepala walak. Akibatnya, keluarga Walak Tomohon diikuti oleh rakyatnya, mengangkat senjata melawan Spanyol. Keadaan bertambah panas dan pemberontakan meluas di kalangan walak lain. Dalam pemberontakan ini 19 orang serdadu Spanyol terbunuh dan 22 orang ditawan oleh penduduk. Kejadian tersebut mengakibatkan Spanyol meninggalkan Minahasa. Kepergian mereka dipengaruhi pula berita tentang akan datangnya pasukan Belanda dengan kekuatan yang lebih besar dari Ternate. Ternyata Belanda tidak datang. Dengan perginya orang Spanyol, penduduk Minahasa merasa tenteram dan suasana menjadi tenang.

Ternyata, suasana tenang ini tidak berlangsung lama. Pada tahun 1651 Spanyol di bawah pimpinan Bartolomeus de Soisa, menduduki daerah Uwuran dan beberapa tempat di daerah pantai timur. Spanyol bermaksud menguasai kembali perdagangan beras. Di bagian timur Minahasa, mereka menuntut hasil padi dari negeri Kali. Usaha ini tidak berjalan mulus, sebab kapal-kapal Belanda setiap saat mengancam kapal Spanyol yang hilir mudik antara Maluku dan Filipina. Perasaan tidak tenteram rakyat Minahasa lama kelamaan hilang, berkat kerjasama di bidang perdagangan antara Spanyol dan rakyat Tondano. Melalui hubungan ini Tondano banyak memperoleh manfaat, khususnya di bidang perdagangan beras.

Kegiatan Spanyol di Minahasa menimbulkan rasa iri Belanda di Ternate. Belanda memutuskan untuk mengirim utusan guna menjalin hubungan dagang dengan Manado. Pada tahun 1653 kapal de Beer di bawah pimpinan nahkoda Jan Overstraten bersama Letnan Jan Dirkisz dan seorang juru bahasa berlabuh di Manado. Kedatangan mereka diterima dengan ramah oleh rakyat Manado. Namun, usaha Belanda untuk menjalin hubungan dagang gagal, karena adanya monopoli Spanyol.

Untuk mematahkan monopoli Spanyol, Raja Bolaang memanfaatkan kedatangan kapal Belanda guna meminta bantuan Gubernur Belanda di Ternate, Yacop Hustard. Gubernur ini mengirim surat kepada pimpinan VOC di Batavia (tanggal 10 Juli 1655). la minta izin untuk mengirimkan ekspedisi ke Manado dan sekaligus membangun benteng di sana.8 Pengi-riman ekspedisi tersebut tertunda, sebab pimpinan VOC di Batavia melakukan penggantian gubernur dari Hustard kepada Simon Cos. Pada masa awal tugasnya Simon Cos menghadapi kenyataan bahwa Spanyol sudah melakukan kegiatan untuk menguasai Sulawesi Utara. Cos memutuskan untuk mengirim pasukan ke Manado pada tahun 1657. Pasukan ini mendarat di muara Sungai Manangolabo, kemudian membangun perbentengan dan menempatkan pasukan di sana. Pasukan ini dipimpin oleh Paul Andriessen, bekas pimpinan ekspedisi yang gagal pada tahun 1644. Benteng yang dibangun itu diberi nama de Nederlandsche Vastigheit. Kedatangan Belanda di Manado diprotes keras oleh Spanyol yang memandang tindakan .tersebut sebagai pelanggaran terhadap perjanjian perdamaian Munster tahun 1648 yang mengakhiri perang antara Spanyol dan Belanda, Masalah tersebut dibicarakan di Batavia dan keputusannya, Cos diperintahkan untuk segera meninggalkan Manado. Akan tetapi, Cos tidak mau meninggalkan Manado, meskipun perdagangan beras tidak menguntungkan Belanda.

Sikap kepala batu Simon Cos itu lama-lama direstui juga oleh pimpinan VOC. Pada bulan Februari 1661 pimpinan VOC mengirimkan dua buah kapal, Molucco dan Diamont, ke Manado untuk melakukan pembersihan di perairan sekitar Manado sampai ke Amurang. Tindakan Belanda ini menyebabkan orangorang Spanyol tidak mempunyai pilihan lain selain meninggalkan daerah Sulawesi Utara. Mulai saat itu kedudukan Spanyol digantikan oleh Belanda.

Tondano Menentang Belanda
Hubungan dagang antara orang-orang Tondano dan Spanyol sudah berlangsung lama, terutama di bidang perdagangan beras. Setelah orang-orang Spanyol pergi, kedudukannya digantikan oleh Belanda. Ternyata tindakan orang Belanda tidak berbeda dengan Spanyol. Hal tersebut banyak menimbulkan kekecewaan di hati orang-orang Manado. Itulah sebabnya kehadiran orang Belanda di Manado tidak disenangi rakyat. Beberapa suku menolak kedatangan Belanda. Suku-suku itu bergabung menjadi satu di Tondano.
…bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *