Perang Tondano (3)

 

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Gubernur Cos melakukan ekspedisi menaklukkan orang-orang Tondano yang tidak menghendaki kedatangannya. Belanda menggunakan siasat dengan membendung Sungai Tonsea Lama dan Sungai Temberan yang mengakibatkan daerah Tondano tergenang oleh air. Dengan menggunakan empat buah perahu besar berkekuatan 65 orang serdadu, pasukan Belanda yang dipimpin oleh Letnan Dirok dan Vanndrig Samine menyerang Tondano. Pertempuran berlangsung dalam waktu yang singkat. Tondano dikalahkan, meskipun sudah berusaha untuk bertahan. Atas kekalahan ini pihak Tondano diwajibkan memenuhi beberapa ketentuan, yaitu:
1).  Orang-orang Tondano harus meninggalkan rumah¬rumah di atas air dan pindah ke daratan di tepi danau.
2).  Tondano harus menyerahkan semua pemimpin pemberontak atau beberapa dari mereka kepada Belanda.
3).  Tondano diwajibkan membayar denda 50 sampai 60 budak sebagai pengganti biaya perang serta kerugian yang dialami Belanda akibat rusaknya tanaman padi.

Belanda menunggu jawaban atas persyaratan yang mereka ajukan, tetapi orang-orang Tondano enggan memenuhinya, kecuali yang bermanfaat untuk mereka, seperti perpindahan pemukiman ke darat. Sementara itu, secara sembunyi-sembunyi orang Tondano masih tetap berhubungan dengan Spanyol yang dikoordinasi oleh seorang Paderi Spanyol; Pieter de Miedes. Beberapa orang Spanyol masih berdiam di Seau dan hubungan dagang dengan Tondano dilakukan melalui pantai timur. mendesak Spanyol dengan cara mengganggu pada kapal layar mereka yang juga mengalami gangguan dari bajak laut Filipina. Spanyol terpaksa meninggalkan Seau dan Ternate pada tahun 1663 dan lebih mengkonsentrasikan perhatiannya di Filipina. Dengan kepindahan ke Filipina, kontak Tondano dengan Spanyol menjadi terhenti. Keadaan itu membuat Tondano gelisah memikirkan hasil panen padi yang melimpah tanpa ada pembeli. Untuk itulah Tondano bersedia memenuhi tuntutan Belanda setelah perang selesai. Dengan demikian, perdagangan beras menjadi monopoli pihak Belanda.

Setelah berakhirnya perlawanan Tondano, Belanda mengalami kemajuan dalam perdagangan beras. Untuk memperkuat pertahanan di Manado, benteng kayu yang semula dibangun, diputuskan untuk diganti dengan bangunan permanen menggunakan beton. Dalam pembangunan benteng ini Belanda banyak menggunakan tenaga dan bahan lokal. Dengan demikian terjadilah pergaulan dengan penduduk setempat. Pergaulan ini membawa pengaruh bagi rakyat Manado dan daerah-daerah pedalaman Minahasa. Banyak penduduk pedalaman datang ke kota Manado. Di sini mereka melakukan perdagangan sambil bertukar pengalaman. Hal ini akan membawa dampak yang luas di belakang hari.
…bersambung…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *